Panggung Malam Pembebasan

Malam sastra rama

Puisi, sejatinya adalah benturan kata-kata yang bersenyawa dengan rasa. Puisi menjadi ritme dan intonasi bertuturnya kehidupan. Pada akhirnya semua tak bisa membubarkan diri dari intrik sastrawi. Hewan, manusia, tumbuhan, bahkan Tuhan pun berpuisi melalui kalam-kalam-Nya (al-Quran).

Begitulah puisi dimaknai oleh para santri-santriwati Rahmatul Asri Maroangin Enrekang di panggung Malam Puisi, Sabtu, 5 Agustus 2017. Mereka menginterpretasikan dirinya kedalam dunia sastra, dunia sarat makna. Meskipun sedikit diguyur hujan dan angin malam, antusiasme bersyair tak padam. Mereka tetap membaca karya mereka. Berbagai jenis dan genre puisi yang dilantunkan. Mulai puisi yang sifanya tunduk, melawan, hingga diam-diam saja.

Yang menarik bagi saya malam ini adalah fenomena memahami sastra sebagai senjata. Alih-alih senjata selalu menjadi pedang. Serupa itulah Pramoedya Ananta Toer kerap berfatwa. Manusia pesantren terkadang hanya terklaim sebagai berbudaya tunggal (absolutisme). Hanya budaya agama. Tak pandai berkata-kata, apalagi bersandiwara (drama). Namun itu bukanlah anggapan mutlak. Manusia pondokan nyatanya sangat bersenyawa. Mereka lebih dekat dengan aliran sastra mistikisme. Bincang tentang tuhan atau keabadian.

Asyiknya, apa yang mereka baca (seperti ayat qur’an, hadis, khutbah) terkandung unsur sastrawi yang tak banyak disadari. Mungkin baru kali ini saja mereka (santri) benar-benar membebaskan sastra. Saya berandai-andai, kelak satu, dua, tiga santri mampu mensiasati bahasa ceramah menjadi bahasa sastrawi yang sopan dan lentur. Mengapa tidak?

Sejatinya, daripada agama harus ditunggangi oleh bahasa politis, misalnya. Sebaiknya bahasa puisi yang membentuk siasat dalam agama. Sebab agama menjadi ketergantungan masyarakat atau lingkungan yang patut dituruti. Apa yang difatwakan agama, itulah yang dikerjakan manusia. Sekiranya suatu waktu ada kritikan dan perbaikan yang disampaikan dengan dalih agama, sastra (puisi maupun drama) akan menjadi bahasa yang gurih dan renyah. Tak kasar, dan juga tak kasat makna. Adapun yang menjadi legitimasi adalah para penyair dari kalangan santri. Yang mestinya membebaskan sastra dalam ritual keagamaan.

Rabiah al-Adawiyah, seorang sufi yang gemar berkirim surat cinta dengan tuhannya. Semasa hidupnya ia berkali-kali menulis puisi mahabbah (kecintaannya pada Tuhan). Memperalat sastra sebagai senjata untuk menorobos cakrawala, lalu menggapai Tuhan. Begitu pun dengan para penyair islami lainnya, seperti Al Mutanabbi, Al Ma’arri dan kawan- kawannya. Lebih tertarik dan cermat berpuisi untuk memberdayakan murid hingga orang-orang sekitarnya. Inilah pentingnya sastra dibebaskan sebagai senjata. Ia akan menembus batas-batas dimensi apapun, selama dimensi itu bisa dibahasakan melalui kata-kata.

Singkatnya, mungkin begitulah hikmah Malam Puisi para santri malam itu. Sekian.

3 Komentar

  1. Musdin Musakkir

    saya pun ingat betul ketika seorang Mubaligh menyampaikan sirah, bahwasanya kalam Allah lewat perantaraan Jibril yg diturunkan kepada Muhammad SAW 14 abad silam adalah sebuah pendekatan sastra dimana masyarakat Quraisy ketika itu gemar dan gandrung akan syair & sastra. Suatu ketika umar bin khattab pun pernah berpesan agar para orang tua mengajarkan sastra kepada anak2nya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *