Puisi Lapanre Naim

Senja yang telah bertukar
kobaran petasan
Mengganggu kata
Yang kau rintis
Sejak pagi

Sama sekali tak ada resah
Diwajahmu
Pada wujud rindu
Kau bahkan luncurkan
ritme gerimis

Bukankah kepergian
Bukan air mata jawabnya.

Puisi Dua Puluh Sembilan.
Penutup Puasa Puisi

***

Bila di surau ini
Mentari pun pergi
Suara-suara yang dulu bergetar
Masih menjadi dindingnya

Sukmamu seperti Labirin
Dan matamu yang menyesatkan
Memintal sutra yang kusut

Duka tak abadi
Sunyi tak lekang
Betapa pun luka matamu
Aku menyimpan matahari
Jauh diruang mataku

Puisi Dua Puluh Delapan

***

Perempuanku yang
Membuat sarang dikepalaku
Berjanjilah
Untuk tak menemuiku
Dalam mimpi sahaja

Singkaplah hatiku ini
Dan Sudilah tambatkan
perahuku direlungmu

Puisi Dua Puluh tujuh

***

Menyingkap rahasiamu
Seperti menyingkap tubuhmu
Sia-sia, sebab
hanya membuktikan
Bulan itu bulat

Menyingkap cintaku
Seperti menyingkap
Kebenaran
Yang selalu Kau sesali

Puisi Dua Puluh Enam

***

Malam keramat
Gerimis yang kelam
Jiwa pun kosong, luka.

Deru yang bising
Suara-suara
Miris dan menggigil

Tubuh kering
Para pendosa
Luluh di lembah

Puisi Dua Puluh Lima

***

Gerimis yang meluncur
terbang bak kupu – kupu
Mengitari ranum wajahmu

Gerimis bukan
Kau yang menyimpan hujan
Dan bukan madu
Yang menyimpan kelam

Puisi Dua Puluh Tiga

***

Takkan pernah kau temui
Cinta dibalik tumpukan kerikil
Pun bila kau mencarinya
Ditumpukan baju
Yang kau rapikan dengan
Rindu

Takkan pernah kau temui
Rindu didalam saku celana
Yang kau gantung
Dibalik pintu
Tempat aku menuliskan
Sajak yang terkenang matamu

Sebab cinta yang bergantung
Ditumpukan rindu bibirku
Kini tergenggam dipelupuk
Hatiku.

Puisi Dua Puluh Tiga

***

Kau tetap setia
mengintip rinduku

Seperti mimpi
Yang meresahkanmu

Seperti anak gadis
Mengintip pelaminan

Seperti sandal yang
Hilang dengan kenangannya.

Puisi Dua Puluh Dua

***

Ada satu puisi
Yang tercecer yang turun
Bersama hujan
Sore ini

Bahkan kau lupa
Menyimpan matamu
Yang membawa luka

Hujan bukan lagi milikmu
Sebab diriku
Berubah jeram
Yang mengalirkan lukamu

Puisi Dua Puluh Satu

***

Pagi yang tak ritmis
Kau memulung
Kesetiaan yang bagimu
Seperti Ritus embun
pada anggrek

Seperti ritus sepi
Yang kau jejakkan
Pada bibirku

Puisi Dua Puluh

***

Pada kenangan, diawal perjumpaan
Mata yang binar Menjadi air mata

Pada kerinduan, Diujung pelarian
Hanya ada Kenangan
Yang tergenang

Puisi Sembilan Belas

***

Dan bila kau kibaskan rambutmu
Kau kerlingkan matamu
Tak ada lagi pusaran
Tak ada Jiwa yang terperangkap

Kau raih bibirku yang buihkan ragamu

Dan sejak kau meliukkan tanganmu
Menari dan berkisah
kau serasa merebut jiwa nan rebah
Mengail mataku mengusap binar ragamu

Kau raih bibirmu yang tertanam
Pada jeram jiwaku

Puisi delapan belas

***

Setiap kali anjing menggonggong
Pada subuh yang suram
Aku menyimpan dendam
Dibawah kasur yang karatan itu.

Dipojok jalan ditepi sungai
Diam yang kau simpan
Mengalirkan aroma melati
Sukmamu memanggil

Aku menguliti jeram
Berkabar hujan
Membungkus rindu
Dan kisah sepi

Puisi Tujuh Belas

***

Pada akhirnya debu terpercik hujan
Dan bau parfum terserap bibirmu
Dan tak ada yang luka.

Pada mulanya hujan memberi kabat
Dan harum tubuhmu memintal peluk
Dan luka berbuah suka

Puisi Lima Belas

***

Selalu ada dua sisi
Tapi bukan kisah dan kasih
Pun bukan bulan dan matahari

Bila kau masih beternak api
Aku menanam air
Kelak, kau menjadi Rindu.

Puisi Empat Belas

****

Kisah yang kau toreh dipelupuk mataku
Mungkin saja serupa daun yang tak berjejak pada tanah.

Tapi kasih yang kau hujamkan disudut hatiku, serupa botol plastik, bekas dahagamu, yang tak terurai dikepalaku.

Puisi Tiga Belas

***

Bila dingin tak dingin lagi
Orang di kota membeli pendingin
Tapi, aku tak membelinya
Sebab diriku masih bersama alam yang asri.

***

Memburu sukma yang menguap
Pada secangkir rasa
Yang menjejak di sudut mata
Pada pagi mengucap resah

Kau yang menitip rindu
Pada pintu aku mengetuk kisah
Bila bulan masih mengintip Rindumu
Kau serupa embun yang membekas disenja itu.

Puisi Dua Belas

***

Setiap kali lidahmu luka
Kau meniup anggrek putih
Sebab duka terasa tak suci.

Lorong jalan masih tak terang
Sebab matamu menyimpan kelam.
Duka yang kau kantongi
Belum lagi kau alirkan dipeluk suka

Tak ada kelam yang abadi
Di jalan terang itu kau menitipkan rindumu.

Melangkahlah menuju Kiblat.
Dan kau menuju pada-Nya.

Puisi Sebelas

***

Padamu angin

Lihat, sungai itu mulai mengkerut
Ia yang dulu memandikan kenangan kita
Tak mengenal lagi, bahkan bau rambutmu
Mata Allo tak lagi bercahaya

Pun Aliran saddang tak lagi
Meliukkan senja
Tak ada lagi tawa kanak-kanak.

Kau angina luka di raut karat jembatan

Puisi Sepuluh

***

Ikhlas bukan seperti memberi permen ke anak kecil. Bukan pula menelan ludah, melihatmu bersama kekasihmu.
Ikhlas adalah melepas diri bersujud pada-Nya.

Puisi Sembilan

***

Kata pun goyah. Salah dan Dosa selalu ada. Penuh Doa dan Tulus pada-Nya. Sambut Ramadhan dengan Ikhlas.

Malam kemarin adalah sunyi. Malam ini adalah Doa. Langkah kemarin masih tak pasti. Sujud malam ini menanti kasih-Nya. Dan bersiaplah berlayar ke ujung Cahaya-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *